Published On: Tue, Jun 18th, 2013
Uncategorized | By admin

Saksikan Diskusi Kasus Ruben Pata di Acara ILC TVOne

Share This
Tags

Karni Ilyas

Jakarta, TCN — Kasus terpidana mati Ruben Pata Sambo mendapat perhatian media. Malam ini, salah satu acara TV yang ditunggu akan mengangkat kasus, yang oleh sementara pihak disebut sebagai aib dalam pengadilan kita yang segera akan terungkapkan.

“Dear Pencinta ILC TVOne, Diskusi ILC, Selasa, pkl 19.30, berjudul “Kelirukah Vonis Mati Ruben Toraja?”. Selamat menikmati.” Karni Ilyas pemandu acara menulis di akun twitternya.

Acara Favorite
Indonesia Lawyers Club adalah sebuah program acara talkshow di TV One yang membahas berbagai topik panas yang sedang terjadi di Indonesia. Acara ini dipandu oleh seorang jurnalis senior, Karni Ilyas. Jakarta Lawyers Club menghadirkan diskusi dan debat mengenai topik yang sedang dibahas. Tamu-tamu di acara ini bukan orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang yang memiliki nama besar di panggung politik, hukum hingga seni dan budaya di Indonesia, seperti pengacara, anggota parlemen sampai ke tingkat menteri. Mereka akan akan memberikan tanggapan dan analisa mereka.

Indonesia Lawyers Club merupakan sebuah acara yang akan memberikan wawasan dan pengetahuan kepada Anda tentang berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini dari sudut pandang yang lebih luas karena di Indonesia Lawyers Club semua topik akan selalu dibahas secara tuntas dan jelas dari berbagai sisi.

Sebuah Aib?
Sebuah aib dunia peradilan di Indonesia tampaknya tak lama lagi akan terkuak. Di Lembaga Pemasyarakatan Lowokwaru Malang saat ini mendekam Ruben Pata Sambo (72) yang menunggu eksekusi hukuman mati, terkait tuduhan menjadi otak pembunuhan sebuah keluarga pada 23 Desember 2005 silam.

Ruben yang adalah warga Jalan Merdeka Nomor 96, Buntu Mamullu, Kelurahan Tondo Mamullu, Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, bersama kedua anaknya dinyatakan terbukti sebagai pelaku pembunuhan, karena diketahui melakukan rapat di rumah mereka untuk merencanakan pembunuhan satu keluarga itu. “Ruben dituduh memberikan uang Rp 500 ribu kepada anaknya sendiri sebagai upah berhasil membunuh keluarga Andrias. Ruben dituduh sebagai otak dari pembunuhan itu,” kata Andreas
Andreas Nurmandala Sutiono adalah orang yang dipercaya oleh keluarga Ruben untuk memberikan keterangan kepada wartawan terkait kasusnya.
Andreas menyebutkan, di dalam persidangan, para saksi sebenarnya sudah mencabut keterangan dalam berita acara pemeriksaan dan penyelidikan. “Saksi mencabut keterangannya, karena (sebelumnya) mengaku banyak tekanan dari berbagai pihak, baik dari pihak kepolisian dan oknum hakim,” kata Andreas..
Saat ini, apa yang dilakukan Andreas adalah untuk membantu Ruben dan anaknya Martinus, mencari keadilan. “Mereka berharap segera dibebaskan,” kata Andreas.

Polisi Membantah

Kapolda Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) Inspektur Jenderal Burhanuddin Andi membantah bahwa Ruben Pata Sambo dan anaknya Martinus adalah korban salah tangkap hingga divonis mati.
“Tidak ada salah tangkap, tidak ada itu karena sudah ada putusan pengadilan. Jadi, tidak benar jika polisi dikatakan salah tangkap,” kata Burhanuddin Andi seusai serah terima jabatan dengan Kapolda Sulselbar yang lama, Irjen Mudji Waluyo, di Markas Polda Sulselbar, Jumat (14/6/2013).

Diharapkan, diskusi ILC yang disiarkan TVOne malam ini dapat memberikan pencerahan ke publik mengenai kasus ini. Selamat menyaksikan.

Displaying 4 Comments
Have Your Say
  1. ali dharma says:

    Memang cocok itu di hukum mati cos menurut cerita tapi dipercaya juga sumBer ceritax. . Bukan cuma bunuh org satu keluarga, tapi memperkosa istri udah barang kemaluanx jg di potong baru digantung di pohon, di rompok lagi semua hartax. Mutilasi habis dia sebagai pelajaran kedepan gitu,

  2. ali dharma says:

    Memang cocok itu di hukum mati cos menurut cerita tapi dipercaya juga sumBer ceritax. . Bukan cuma bunuh org satu keluarga, tapi memperkosa istri udah barang kemaluanx jg di potong baru digantung di pohon, di rompok lagi semua hartax. Mutilasi habis dia sebagai pelajaran kedepan gitu,

  3. Array-Dx says:

    Ali,

    Tolong lebih smart dalam menanggapi kasus ini.
    yg anda katakan di atas itu memang perbuatan yg keji, sadis dan tidak manusiawi dan pelakunya sudalah pasti sangat pantas untuk dihukum seberat2nya menurut aturan hukum di indonesia. Namun sampai saat ini hukuman tersebut secara pasti hanya untuk agustinus sambo.
    Tapi yg mau diangkat dari kasus ini adalah tentang Ruben dan anaknya yg katanya tidak bersalah (dan memang terlalu banyak kejanggalan, spt contoh motifnya saja tidak jelas diketahui oleh bpk Polisi).
    Lagian yg jadi pertanyaan besar, kenapa sudah ada surat pengakuan dari Agustinus sambo yg menyatakan Ruben dan anaknya tidak bersalah dan ditandatangani di atas materai, tapi nyatanya Ruben & Markus masih ditahan.
    Jangan samapi setelah Ruben & Markus sudah di eksekusi, eh ternyata mreka ga bersalah. Trus siapa yg mau bertanggung jawab atas nyawa mereka?

  4. Array-Dx says:

    Ali,

    Tolong lebih smart dalam menanggapi kasus ini.
    yg anda katakan di atas itu memang perbuatan yg keji, sadis dan tidak manusiawi dan pelakunya sudalah pasti sangat pantas untuk dihukum seberat2nya menurut aturan hukum di indonesia. Namun sampai saat ini hukuman tersebut secara pasti hanya untuk agustinus sambo.
    Tapi yg mau diangkat dari kasus ini adalah tentang Ruben dan anaknya yg katanya tidak bersalah (dan memang terlalu banyak kejanggalan, spt contoh motifnya saja tidak jelas diketahui oleh bpk Polisi).
    Lagian yg jadi pertanyaan besar, kenapa sudah ada surat pengakuan dari Agustinus sambo yg menyatakan Ruben dan anaknya tidak bersalah dan ditandatangani di atas materai, tapi nyatanya Ruben & Markus masih ditahan.
    Jangan samapi setelah Ruben & Markus sudah di eksekusi, eh ternyata mreka ga bersalah. Trus siapa yg mau bertanggung jawab atas nyawa mereka?

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Switch to our mobile site