Published On: Sat, Aug 18th, 2012
Uncategorized | By admin

PONGTIKU MILIK SIAPA ???

Share This
Tags

Frans Bore

PENGAKUAN terhadap Pongtiku sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah pada tahun 2003 adalah sebuah catatan baru dalam sejarah kepahlawanan bangsa Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap kaum penjajah.

Pengakuan Pongtiku sebagai Pahlawan Nasional juga menandakan bahwa Pongtiku kini bukan hanya milik keluarga saja namun juga milik masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Toraja. Olehnya itu bukanlah sebuah hal yang keliru bila Pemda di Toraja Utara dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memberi perhatian yang layak terhadap peninggalan Pongtiku seperti tempat bersejarah lainnya di Toraja dan sulawesi selatan.

Taman Makam Pahlawan Nasional Pongtiku


Keberadaan Tongkonan di Pangala’ tempat lahirnya Pongtiku adalah salah satu peninggalannya yang sarat dengan nilai sajarah bahkan budaya. Hal ini menandakan bahwa keberadaan Tongkonan bukan hanya sebagai simbol pemersatu keluarga atau bukan hanya sebagai rumah adat Toraja semata, namun kehadiran Tongkonan juga manandakan sebagai simbol kejayaan, kekuatan, keberanian, kemerdekaan bahkan kepahlawanan. Dengan demikian, Tongkonan tempat lahirnya Pongtiku juga dapat dimaknai sebagai kemenangan dan kemerdekaan Toraja bahkan Indonesia.

Namun sebuah hal yang sangat ironis bila pemda Toraja Utara dan Pemrov Sulawesi Selatan tidak memberikan perhatian yang layak terhadap peninggalan sang Pahlawan Pongtiku seperti Tongkonan tempat lahirnya Pongtiku sebagai tongkonan yang memiliki kekuatan sejarah. Pada masa orde baru sebelum pemekaran kabupaten Tana Toraja, Tahun 1996 tugu dan dan tempat pemakaman Pongtiku di Pangala’ dibangun dan di resmikan oleh Bupati Tana Toraja Tarsis Kodrat sebagai tanda penghargaan terhadap kegigihan Pongtiku dan kawan kawannya melawan para penjajah. Bahkan dimasa kepemimpinan Palaguna selaku Gubernur sulawesi Selatan masa orde baru pihak keluarga Pongtiku mengatakan bahwa sering mendapatkan penghargaan dari pemerintah sebagai wujud kepedulian dan rasa hormat terhadap kepahlawanan Pongtiku dan rekan seperjuangannya. Namun sesungguhnya tugu, tempat pemakaman dan berbagai penghargaan itu tidaklah cukup bila dibandingkan dengan pengorbanan Pongtiku dan rekan rekannya.

Tongkonan Pongtiku


Sungguh tidak terpujinya Pemerintah Toraja Utara dan Pemrov Sulawesi selatan bila dimasa Otonomi Daerah peningglan bersejarah Pongtiku tidak mendapatkan perhatian prioritas. Beberapa waktu yang lalu Pemerintah Toraja Utara yaitu Bupati telah melakukan kunjungan ke tongkonan Pongtiku. Namun pertanyaannya adalah cukupkah hanya dengan perkunjungan kemudian itu dianggap sebagai hal yang luar biasa??? Sementara disisi lain rekan rekan Pongtiku yang juga berjuang mempertahankan NKRI kini terlupakan dan terabaikan oleh Pemda Toraja Utara bahkan tidak ada niat untuk menggali informasi dan memperjuangkannya agar nama mereka juga dapat disejajarkan dengan nama Pahlawan Pongtiku.

Keberadaan dan renovasi Tongkonan Pongtiku yang diinisiasi dan diakomodasi sendiri oleh pihak keluarga semakin menguatkan asumsi masyarakat bahwa pemda toraja Utara telah melakukan pembiaran terhadap peninggalan bersejarah tersebut. Hal ini semakin kontras dengan cita cita Toraja utara yang mendambakan daerah Toraja Utara sebagai daerah parawisata dan daerah bersejarah. Sementara itu Pemrov Sulawesi Selatan dimasa otonom ini, juga terus menggaungkan bahwa daerah Toraja adalah kebanggaan Sulawesi Selatan kerna memiliki nilai sejarah dan budaya yang unik. Untuk berkunjung ke Tongkonan Pongtiku saja harus menempuh jalan puluhan kilometer dan melalui jalanan yang sangat sempit bahkan memprihatinkan.

Penulis berfoto dengan beberapa aktivis di Tongkonan PongTiku


Bila benar bahwa Pongtiku kini bukan milik keluarga saja namun melainkan kepunyaan masyarakat Sulawesi Selatan khususnya Toraja maka selayaknyalah pemda Toraja Utara dan Pemrov Sulawesi Selatan bersama sama memikirkan dan memberikan perhatian yang layak terhadap peninggalan bersejarah itu, karna tempat bersejarah juga akan menjadi tempat kunjungan wisata yang pastinya akan mendorong cita cita Pemrov Sulawesi selatan khususnya Pemda Toraja Utara.
Bukan hanya Pongtiku yang harus mendapatkan perhatian dari Pemda Toraja Utara, namun juga kepada rekan seperjuangan Pongtiku dan keluarganya yang kini hidup dalam himpitan tekanan psikologis akibat tudingan dan tuduhan dari berbagai pihak bahkan lembaga Gereja yang menuding bahwa sahabat Pongtiku (Pong Masangka’, Ne’ Matandung, Tandibua’ dan rekan yang lain) adalah pembunuh dan pemberontak karna telah membunuh misionaris dari Belanda yaitu Van de Loosdrechct di daerah Bori’. Namun Tudingan tersebut sangat bertolak belakang dengan ajaran Kristiani yaitu Mengasihi dan Mengampuni.

Penulis : Frans Bore
Ketua Umum Gerakan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Toraja (GEPPMATOR)

Displaying 16 Comments
Have Your Say
  1. Tirrik lada says:

    Dear Frans…
    pertama2 secara pribadi dan pemuda pangala sangat berterima kasih atas artikel yg kamu posting di http://torajacybernews.com/umum/pongtiku-milik-siapa.html
    saya begitu bangga terhadap dirimu yang berjuang tanpa perintah untuk mencari cari tahu dan memperjuangan hak2 dari nek baso,saya sebagai putra pangala sangat bersukur atas bantuan dan kerja sama yang kamu lakukan bersama dengan rekan2 kamu,mungkin ada beberpa hal yang perlu di perhatikan khusus dalam hal ini akses jalan menuju pangala sangat memprihatinkan sampai sekarang ini..hari demi hari tidak pernah mau di repospon sama pemerintah..khusus nya pemerintah torut.mudah2 an dengan artikel yang kamu posting ini bisa di baca oleh semua kalangan pemerintah biar mereka bisa mengambil langkah2 apa yang akan mereka lakukan..maju terus bro…kami akan selalu mendukung mu..salam kangen dari power 03…

    • Daud Atte says:

      “bahkan lembaga Gereja yang menuding bahwa sahabat Pongtiku (Pong Masangka’, Ne’ Matandung, Tandibua’ dan rekan yang lain) adalah pembunuh dan pemberontak karna telah membunuh misionaris dari Belanda yaitu Van de Loosdrechct di daerah Bori’. Namun Tudingan tersebut sangat bertolak belakang dengan ajaran Kristiani yaitu Mengasihi dan Mengampuni”. Ah Frans Bore. Apa korelasi mengasihi dan mengampuni dengan penulisan Sejarah? Wouw!

  2. Tirrik lada says:

    Dear Frans…
    pertama2 secara pribadi dan pemuda pangala sangat berterima kasih atas artikel yg kamu posting di http://torajacybernews.com/umum/pongtiku-milik-siapa.html
    saya begitu bangga terhadap dirimu yang berjuang tanpa perintah untuk mencari cari tahu dan memperjuangan hak2 dari nek baso,saya sebagai putra pangala sangat bersukur atas bantuan dan kerja sama yang kamu lakukan bersama dengan rekan2 kamu,mungkin ada beberpa hal yang perlu di perhatikan khusus dalam hal ini akses jalan menuju pangala sangat memprihatinkan sampai sekarang ini..hari demi hari tidak pernah mau di repospon sama pemerintah..khusus nya pemerintah torut.mudah2 an dengan artikel yang kamu posting ini bisa di baca oleh semua kalangan pemerintah biar mereka bisa mengambil langkah2 apa yang akan mereka lakukan..maju terus bro…kami akan selalu mendukung mu..salam kangen dari power 03…

    • Daud Atte says:

      “bahkan lembaga Gereja yang menuding bahwa sahabat Pongtiku (Pong Masangka’, Ne’ Matandung, Tandibua’ dan rekan yang lain) adalah pembunuh dan pemberontak karna telah membunuh misionaris dari Belanda yaitu Van de Loosdrechct di daerah Bori’. Namun Tudingan tersebut sangat bertolak belakang dengan ajaran Kristiani yaitu Mengasihi dan Mengampuni”. Ah Frans Bore. Apa korelasi mengasihi dan mengampuni dengan penulisan Sejarah? Wouw!

  3. Ambeso says:

    “Saya kira sebagian besar pembaca tidak mengenal tokoh yang satu ini. Atau mungkin baru pertama kali mendengar nama tersebut. Dia adalah tokoh yang berjuang di Tana Toraja melawan penjajah Belanda. Kalau kita menganggap daftar pahlawan nasional itu sebagai album perjuangan bangsa di mana semua golongan dan etnis mendapat tempat, tentu aspek representasi dapat dipertimbangkan walaupun ”kadar”perjuangannya pada tingkat lokal”. (Asvi Warman Adam, Ahli Peneliti Utama LIPI, Koran SINDO – 11 November 2008).

  4. Ambeso says:

    “Saya kira sebagian besar pembaca tidak mengenal tokoh yang satu ini. Atau mungkin baru pertama kali mendengar nama tersebut. Dia adalah tokoh yang berjuang di Tana Toraja melawan penjajah Belanda. Kalau kita menganggap daftar pahlawan nasional itu sebagai album perjuangan bangsa di mana semua golongan dan etnis mendapat tempat, tentu aspek representasi dapat dipertimbangkan walaupun ”kadar”perjuangannya pada tingkat lokal”. (Asvi Warman Adam, Ahli Peneliti Utama LIPI, Koran SINDO – 11 November 2008).

  5. “sebaiknya sejarah tentang Pongtiku bahkan Toraja pada umumnya harus dibuat Buku karena pada saat ini sangat jarang buku tentang sejarah Toraja dan sejarah para pahlawan Toraja justru yang bnyak dibuat adalah buku tentang kebudayaan saja seperti rambu solo/tuka,,Tongkonan,,dll. sya pikir banyak sejarahwan Toraja dan saya sangat berharap pemerintah juga turun tangan,, salamaa’.

  6. “sebaiknya sejarah tentang Pongtiku bahkan Toraja pada umumnya harus dibuat Buku karena pada saat ini sangat jarang buku tentang sejarah Toraja dan sejarah para pahlawan Toraja justru yang bnyak dibuat adalah buku tentang kebudayaan saja seperti rambu solo/tuka,,Tongkonan,,dll. sya pikir banyak sejarahwan Toraja dan saya sangat berharap pemerintah juga turun tangan,, salamaa’.

  7. Ir.Desty Pongsikabe,M Si says:

    Kami keluarga telah berupaya memperbaiki situs peningnggalan Sejarah yaitu tongkonan tua rumpun keluarga Besar NE karaeng Lebok .sy sebagai salah satu penyandang Dana dalam program RENOVASI TONGKONAN TERSEBUT telah menyampaikan keluarga Di kampung tidak Boleh menerima bantuan dari pemerintahan toraja utara walaupun bupatinya masih keluarga dekat ,ini harga diri keluarga . Dan syukur renovasi TONGKONAN telah selesai seperti terlihat Di .atas tanpa bantuan dari pemda torut ,SELAMAT Menikmati Situs Perjuangan Pahlawan NAsional Toraja yg terlupakan . Terimakasih adik adik geppmator , adik Belo dkk yg berupaya membuat film documenter kepahlawanan ne matasak/ Pongtiku

    • ir. desty benar, memang seharusnya pembangunan tongkonan itu dilakukan oleh kerabat keluarga yang termasuk di tongkonan itu. malu bagi keluarga untuk membangun tongkonan dengan bantuan dari pemerintah. bedakan dengan bangunan lain. tentang pong masangka kawan geppmator hendaknya menggali semuar informasi tentang yang bersangkutan. masyarakat bori’ parinding dan sekitarnya banyak menyimpan memori tentang pong masangka. jangan informasinya hanya diperoleh dari keluarga supaya berimbang.

  8. Ir.Desty Pongsikabe,M Si says:

    Kami keluarga telah berupaya memperbaiki situs peningnggalan Sejarah yaitu tongkonan tua rumpun keluarga Besar NE karaeng Lebok .sy sebagai salah satu penyandang Dana dalam program RENOVASI TONGKONAN TERSEBUT telah menyampaikan keluarga Di kampung tidak Boleh menerima bantuan dari pemerintahan toraja utara walaupun bupatinya masih keluarga dekat ,ini harga diri keluarga . Dan syukur renovasi TONGKONAN telah selesai seperti terlihat Di .atas tanpa bantuan dari pemda torut ,SELAMAT Menikmati Situs Perjuangan Pahlawan NAsional Toraja yg terlupakan . Terimakasih adik adik geppmator , adik Belo dkk yg berupaya membuat film documenter kepahlawanan ne matasak/ Pongtiku

    • ir. desty benar, memang seharusnya pembangunan tongkonan itu dilakukan oleh kerabat keluarga yang termasuk di tongkonan itu. malu bagi keluarga untuk membangun tongkonan dengan bantuan dari pemerintah. bedakan dengan bangunan lain. tentang pong masangka kawan geppmator hendaknya menggali semuar informasi tentang yang bersangkutan. masyarakat bori’ parinding dan sekitarnya banyak menyimpan memori tentang pong masangka. jangan informasinya hanya diperoleh dari keluarga supaya berimbang.

  9. Salam hormat utk kita semua. Menurut hemat sy: adl Hal yg sgt pantas dan wajib bagi Pemerintah Daerah setempat dan jg tokoh2 masy setempat membuka mata hati dan pikiran positif yg membangun agar memberi pengakuan, perhatian dan penghargaan atas jasa para pejuang di Toraja pd masa itu yg betul2 berjuang demi kepentingan bangsa dan masy Toraja pada khususnya. Kalau ada pertentangan internal di kalangan masy tentang pejuang atau penghianat itu wajar2 sj. Semua bisa terjawab dgn penelitian. Pengakuan gelar kepahlawanan kpd seseorang tdk boleh kita lihat dari kacamata politik atau kepentingan tertentu tetapi harus objektif dgn melibatkan saksi2 sejarah atau minimal masukan positif dari semua elemen masy krn hal itu akan menjadi sejarah turun temurun kepada anak cucu kita nantinya. Yg jadi masalah adalah apakah pemerintah mau memulainya dan punya kepedulian atau tidak. Ini jg bukan tanggung jawab pemerintah semata tetapi merupakan tanggung jwb kita bersama terutama tokoh2 masy yg ada di Toraja.

  10. Salam hormat utk kita semua. Menurut hemat sy: adl Hal yg sgt pantas dan wajib bagi Pemerintah Daerah setempat dan jg tokoh2 masy setempat membuka mata hati dan pikiran positif yg membangun agar memberi pengakuan, perhatian dan penghargaan atas jasa para pejuang di Toraja pd masa itu yg betul2 berjuang demi kepentingan bangsa dan masy Toraja pada khususnya. Kalau ada pertentangan internal di kalangan masy tentang pejuang atau penghianat itu wajar2 sj. Semua bisa terjawab dgn penelitian. Pengakuan gelar kepahlawanan kpd seseorang tdk boleh kita lihat dari kacamata politik atau kepentingan tertentu tetapi harus objektif dgn melibatkan saksi2 sejarah atau minimal masukan positif dari semua elemen masy krn hal itu akan menjadi sejarah turun temurun kepada anak cucu kita nantinya. Yg jadi masalah adalah apakah pemerintah mau memulainya dan punya kepedulian atau tidak. Ini jg bukan tanggung jawab pemerintah semata tetapi merupakan tanggung jwb kita bersama terutama tokoh2 masy yg ada di Toraja.

  11. ambeso says:

    Sekali lagi Asvi Warman Adam,Ahli Peneliti Utama Lipi, “menggugat kepahlawanan” Pongtiku. Dalam Kompas 9 Nopember 2013 ia menulis:”… Soekarno, Hatta, Sudirman, Kartini, Tjut Nya’ Dien, Diponegoro tentu saja dikenal luas. Tetapi, tahukah Anda siapa Pong Tiku….”.

  12. ambeso says:

    Sekali lagi Asvi Warman Adam,Ahli Peneliti Utama Lipi, “menggugat kepahlawanan” Pongtiku. Dalam Kompas 9 Nopember 2013 ia menulis:”… Soekarno, Hatta, Sudirman, Kartini, Tjut Nya’ Dien, Diponegoro tentu saja dikenal luas. Tetapi, tahukah Anda siapa Pong Tiku….”.

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Switch to our mobile site