Published On: Sun, Jun 16th, 2013
Uncategorized | By admin

Polda Sulsel: Ruben Pata Otak Pembunuhan Sadis Di Toraja

Share This
Tags

MAKASSAR – Dugaan salah tangkap yang dilakukan Polres Tana Toraja terhadap Ruben Pata Sambo, terpidana kasus pembunuhan sadis di Tana Toraja yang akan dieksekusi mati, diklarifikasi pihak Polda Sulsel.

Direktur Reskrimum Polda Sulsel Kombes Pol Joko Hartanto menegaskan, dalam penanganan kasus itu pihak kepolisian telah bekerja secara profesional dan menetapkan delapan tersangka yakni Ruben, Petrus Tadan, Agustinus Sambo, Yulianus Maraya, Markus Pata Sambo, Martinus Pata Sambo, Budianto Tian, dan Juni.

Ruben, kata Joko, memang tidak melakukan pembunuhan satu keluarga pada Desember 2005 lalu. Namun, berdasarkan bukti-bukti dan saksi yang ada, Ruben adalah otak pembunuhan sadis terhadap Andarias Pandin (38), istrinya Martina Labiran (31), dan anaknya Israel (8).

Joko cerita, perencanaan pembunuhan terhadap satu keluarga itu terjadi pada 21 Desember 2005 di rumah Ruben di Kecamatan Makale, Kabupaten Toraja. Di rumah itu, Ruben merencanakan bersama dua tersangka lainnya, Markus Pata Sambo alias Edi dan Budianto Tian alias Budi.

“Dirumahnya juga, Ruben memberikan uang kepada Agustinus sebanyak Rp 1,5 juta untuk membunuh korban dan menuruhnya untuk mencari eksekutor lainnya dengan imbalan Rp 2 juta per eksekutor,” jelasnya didampingi Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Endi Sutendi dan Irwasda Polda Sulsel Kombes Pol Permadi di Mako Polrestabes Makassar, Sabtu (15/6).

Pada hari Jumat, 23 Desember 2005, selain Ruben, tujuh orang tersangka akhirnya mengencarkan aksinya. Para tersangka bersama-sama mendatangi rumah korban di Mamullu Kecamatan Makale, Toraja dan membawa korban satu per satu ke Kampung Getengan Kecamatan Mengkendek, Toraja. Andreas lebih dulu dibunuh dengan cara ditusuk pada bagian pinggang, paha diiris dan leher bagian depan dan belakang digorok menggunakan parang.

Setelah mengeksekusi Andreas, istri korban Martina dijemput oleh Agustinus menggunakan motor korban dengan alasan suaminya sedang sakit. Martina lalu dibawa ke lokasi kejadian dan diperkosa secara bergantian oleh tersangka. Korban lalu dibunuh dengan cara menggorok leher korban dan menusuk kemaluannya dengan parang.

Keesokan harinya, Joko melanjutkan, tersangka Agus dan Markus menjemput anak korban, Israel menggunakan motor ke daerah Nanggala, Toraja Utara. Di situ, korban lalu dianiaya hingga tidak berdaya. Tubuh korban yang tidak berdaya kemudian dilemparkan ke jurang sedalam 100 meter oleh tersangka.

“Jadi para tersangka dalam kasus itu bekerja berdasarkan perintah Ruben. Buktinya, perencanaan dilakukan di rumahnya, membayar para tersangka, dan mobil yang digunakan menjemput korban adalah mobil milik Ruben,” katanya.

“Motif Ruben sendiri merencanakan pembunuhan karena korban menguasai tanah dan rumah tongkonan yang menurut tersangka adalah hak warisnya. Korban sendiri tetap tinggal di rumah tongkonan itu karena diberi amanah oleh almarhum pemiliknya yang masih memiliki hubungan
keluarga dengan Ruben,” terangnya lagi.

Terkait dugaan penganiayaan yang dilakukan penyidik terhadap Ruben agar mengakui perbuatannya, Irwasda Polda Sulsel Kombes Pol Permadi membantah hal tersebut. Ia mengatakan, proses penyidikannya dilakukan secara tim dan para tersebut didampingi oleh penasehat hukumnya, di mana hasil BAP tersangka selain ditandatangani oleh para tersangka juga ditandatangani oleh penasehat hukumnya.

“Proses penanganan sesuai prosedur dan tidak ditemukan adanya pelanggaran atau penganiayaan,” tandasnya sembari memperlihatkan berkas pemeriksaan para tersangka.

Berdasarkan hasil penyidikan dan vonis peradilan dari tingkat Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, Mahkamah Agung, dan Peninjauan Kembali (PK), Ruben memang bukan pelaku pembunuhan namun terbukti selaku aktor intelektual (intelektual dader). Dalam perkara itu, selain Ruben dua lainnya juga divonis mati yakni Agustinus Sambo dan Markus Pata Sambo.

Sementara tersangka lainnya yang bertindak sebagai eksekutor dijatuhi hukuman berbeda-beda. Petrus divonis 10 tahun penjara, Yulianus dan Juni 20 tahun penjara, dan Martinus Pata Sambo 8 tahun penjara. Sementara Budianto bebas dari jeratan berdasarkan putusan pengadilan tinggi.

Opini dugaan salah tangkap ini berkembang karena adanya pernyataan dari Andreas Nurmandala seorang pembina rohani gereja di LP Lowokwaru Malang yang dipercaya Ruben bukan pelaku pembunuhan serta mengaku disiksa dan ditelanjangi oleh oknum polisi selama proses penyidikan.

Sumber: Rakyat Sulsel

Displaying 8 Comments
Have Your Say
  1. charles says:

    ada yg ganjil dari pernyataan kombes pol Joko Hartanto: perencanaan pembunuhan terhadap satu keluarga itu terjadi pada 21 Desember 2005 di rumah Ruben di Kecamatan Makale, Kabupaten Toraja. Di rumah itu, Ruben merencanakan bersama dua tersangka lainnya, Markus Pata Sambo alias Edi dan Budianto Tian alias Budi.

    “Dirumahnya juga, Ruben memberikan uang kepada Agustinus sebanyak Rp 1,5 juta untuk membunuh korban dan menuruhnya untuk mencari eksekutor lainnya dengan imbalan Rp 2 juta per eksekutor,” jelasnya didampingi Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Endi Sutendi dan Irwasda Polda Sulsel Kombes Pol Permadi di Mako Polrestabes Makassar, Sabtu (15/6). nah lalu knp budi bisa bebas? dan tdk terbukti dipersidangan melalui pembuktian menggunakan rekaman cctv…

  2. charles says:

    ada yg ganjil dari pernyataan kombes pol Joko Hartanto: perencanaan pembunuhan terhadap satu keluarga itu terjadi pada 21 Desember 2005 di rumah Ruben di Kecamatan Makale, Kabupaten Toraja. Di rumah itu, Ruben merencanakan bersama dua tersangka lainnya, Markus Pata Sambo alias Edi dan Budianto Tian alias Budi.

    “Dirumahnya juga, Ruben memberikan uang kepada Agustinus sebanyak Rp 1,5 juta untuk membunuh korban dan menuruhnya untuk mencari eksekutor lainnya dengan imbalan Rp 2 juta per eksekutor,” jelasnya didampingi Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Endi Sutendi dan Irwasda Polda Sulsel Kombes Pol Permadi di Mako Polrestabes Makassar, Sabtu (15/6). nah lalu knp budi bisa bebas? dan tdk terbukti dipersidangan melalui pembuktian menggunakan rekaman cctv…

  3. tarrak says:

    Belum tentu salah tangkap. Kasus ini dianggap salah tangkap karena mereka tidak ikut langsung eksekusinya. Tapi dari keterangan saksi bahwa merekalah yang otak pelakunya. ini bisa saja benar krn tidak mungkin ada action kalau tidak ada command. Apalagi ini pembunuhan menyangkut harta warisan. otomatis pasti melibatkan satu keluarga, ini pembunuhan yang sangat sadis. Neraka sdh menunggu pelakunya, mudah2han mereka sdh merasakan sakit yg mereka buat sendiri.

  4. tarrak says:

    Belum tentu salah tangkap. Kasus ini dianggap salah tangkap karena mereka tidak ikut langsung eksekusinya. Tapi dari keterangan saksi bahwa merekalah yang otak pelakunya. ini bisa saja benar krn tidak mungkin ada action kalau tidak ada command. Apalagi ini pembunuhan menyangkut harta warisan. otomatis pasti melibatkan satu keluarga, ini pembunuhan yang sangat sadis. Neraka sdh menunggu pelakunya, mudah2han mereka sdh merasakan sakit yg mereka buat sendiri.

  5. john says:

    berani berbuat berani tanggungjawab, gak usah nyangkal kiri kanan. silahkan nikmati hukuman nya, lbh parah hukuman di akhirat sdh menunggu

  6. john says:

    berani berbuat berani tanggungjawab, gak usah nyangkal kiri kanan. silahkan nikmati hukuman nya, lbh parah hukuman di akhirat sdh menunggu

  7. vani says:

    Tuhan Yesus saja di siksa, bahkan di salibkan
    padahal bukan kesalahan DIA melainkan krn dosa manusia.
    tetap percaya mujizat Tuhan pasti terjadi
    yang salah pasti akan dapat ganjaran
    (klo pak Ruben tdk melakukannya tetap percaya Tuhan pasti punya cara untuk membebaskan pak Ruben dan keluarga)

  8. vani says:

    Tuhan Yesus saja di siksa, bahkan di salibkan
    padahal bukan kesalahan DIA melainkan krn dosa manusia.
    tetap percaya mujizat Tuhan pasti terjadi
    yang salah pasti akan dapat ganjaran
    (klo pak Ruben tdk melakukannya tetap percaya Tuhan pasti punya cara untuk membebaskan pak Ruben dan keluarga)

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Switch to our mobile site