Published On: Sat, Nov 5th, 2011
Uncategorized | By admin

Hubungan Injil dan kebudayaan

Share This
Tags

Pemahaman mengenai “ sabung ayam” sebagai budaya Toraja yang perlu dilestarikan, adat-istiadat tidak boleh dicampurkan dengan “aluk”, kebudayaan hanya menyangkut “rambu solo’” dan “rambu tuka’”, masalah “tunuan tomate” pelestarian budaya ternyata mengandung banyak permasalahan.
Pdt. (Em) Cornelius Parintak M.Th mencoba menjawab permasalahan di atas pada rangkaian artikel bersambung di TCN berikut. Tentu yang disampaikan tidak lepas dari keyakinan dan pandangan sebagai seorang Pendeta Gereja Toraja ( Emeritus).

Beberapa permasalahan

Hubungan antara Injil dan kebudayaan merupakan problem sepanjang masa. Tiap gereja selalu bergumul baik dengan budaya lokalnya maupun budaya global. Ada berbagai sikap yang ditempuh Gereja menghadapi budaya itu. Ada 4 sikap Gereja yang selalu muncul sepanjang sejarah yaitu sikap menolak, serba dua (dualisme), menyesuaikan dan menguduskan.
Sikap menolak dimana Gereja memandang kebudayaan itu sebagai yang berdosa yang tidak bisa dipadukan dengan injil (ajaran Kristen). Sikap serba dua dimana orang Kristen membedakan Injil dan Kebudayaan sebagai yang bertentangan. Orang Kristen yang demikian hidup dalam dua dunia itu. Perbuatannyapun bertentangan (paradox).
Sikap menyesuaikan maksudnya Injil itu membawahi kebudayaan. Injil menyempurnakan kebudayaan. Sikap menguduskan maksudnya Gereja memilih, mempengaruhi kebudayaan sedemikian untuk kekudusan Tuhan.
Selanjutnya dalam pengalaman bergereja (khusus digereja Toraja) ditemukan rupa-rupa pemahaman, pertanyaan, sikap orang Kristen ditengah budaya, baik budaya tradisional maupun budaya modern.

Pemahaman mengenai “ sabung ayam” sebagai budaya Toraja yang perlu dilestarikan, adat-istiadat tidak boleh dicampurkan dengan “aluk”, kebudayaan hanya menyangkut “rambu solo’” dan “rambu tuka’”, masalah “tunuan tomate” pelestarian budaya. Dan budaya Toraja yang sekarang ini apakah masih benar? Siapakah penyelamat kebudayaan? Ada pula yang mempertanyakan perubahan budaya dengan alasan tidak lagi asli. Maksudnya jika adat dimodifikasi tidak asli lagi. Ada pula yang bertanya bahwa apakah Tana Toraja akan dijadikan reservat kekunoan?
Tulisan ini mencoba menjawab permasalahan diatas. Tentu yang disampaikan tidak lepas dari keyakinan dan pandangan sebagai seorang Pendeta Gereja Toraja ( Emeritus). Gereja Toraja bersikap realistis, positif, kritis dan kreatif terhadap kebudayaan. Sikap inilah yang jadi pegangan dalam mengkomunikasikan Injil dengan kebudayaan.

Sikap realistis
Sikap realistis artinya Gereja menyadari bahwa kebudayaan itu adalah suatu realitas bukan maya. Bahwa Gereja benar-benar hadir dan berada ditengah kenyataan budaya. Gereja bukan disorga tetapi didunia, dikebudayaan.

Realitas berarti kebudayaan dengan segala pengungkapannya tidak lepas dari Injil ( ajaran Kristen) apakah kebudayaan suku tradisional atau kebudayaan global modern tidak netral dihadapan doktrin Kristiani. Didalam kebudayaan, manusia bertanggungjawab. Kitab suci ( PL dan PB) mlihat kebudayaan sebagai yang nyata. Manusia diciptakan Allah dengan kelengkapan pikiran, perasaan dan lain-lain untuk mampu berbudaya. Hanya manusia dari segala makhluk yang bisa berbudaya. Jadi kebudayaan sebagai yang diciptakan manusia betul-betul nyata sebagai konsekunsi dari penciptaan Allah sendiri.

Hal itu berarti manusia dalam berbudaya (mencipta, menggunakan, merobah dll) harus dalam kerangka penciptaan Allah. Jadi adalah keliru sikap Gereja yang mengeliminasi diri dari dunia, dari kebudayaan. Yesus Kristus adalah Anak Allah datang dari atas, tetapi masuk kedalam dunia, lahir dari kebudayaan Timur Tengah. Ia berada mengajar, berbuat dan melayani dalam kebudayaan yang real.

Sikap Positif
Sikap ini erat berkaitan dengan sikap realistis diatas. Ada yang bersikap realistis tetapi belum tentu bersikap positif terhadap kebudayaan itu. Artinya Gereja tidak hanya melihat kebudayaan itu sebagai produk manusia yang berdosa. Manusia yang berdosa tetap manusia yang berbudaya. Dan budaya sebagai hasil karya manusia berdasarkan rasa, akal dan karsa tentu punya nilai-nilai positif. Hal itu dapat dilihat dalam berbagai perkakas, adat istiadat, ilmu dan teknologi. Berbagai bentuk seni yang halus bukanlah hal yang harus ditolak.
Sama seperti Allah bersikap positif terhadap dunia begitulah Gereja terpanggil bersikap positif terhadap berbagai pencapaian manusia berdasarkan akal budi, pikiran dan daya ciptanya.Berpikir negatif terhadap kebudayaan adalah salah. Alasannya seperti tela seperti telah disinggung diatas bahwa kebudayaan manusia berhubungan erat dengan karya penciptaan oleh Allah. Juga bahwa Allah bekerja didalam kebudayaan. Buktinya para nabi, rasul memberitakan firman dengan bahasa dan cara-cara yang lazim sebagai kebudayaan manusia. Lewat musik, puisi, tari, prosa dan lain-lain, nama Tuhan dimuliakan, diberitakan.
Kalau dalam sejarah ternyata ada sikap menolak kebudayaan oleh Gereja, hal itu tentu ada latar belakangnya atau sikap itu memang salah. Latar belakang pandangan negative itu, karena pada waktu itu Gereja sadar betul akan kuasa dosa dalam berbagai ungkapan kebudayaan. Terutama praktek sandiwara kafir, pelacuran suci, agama misteri yang mempraktekkan kesurupan dan lain-lain, membuat Gereja menolak kebudayaan. Tetapi penolakan secara umum terhadap kebudayaan adalah keliru. Tidak mungkin manusia hidup tanpa kebudayaan. Sandang, pangan, serta papan sebagai kebutuhan dasar manusia adalah hasil karya manusia sebagai kebudayaan. Kebudayaan mencakupi upaya pengelolaan atau pengusaan alam. Tumbuhan gandum dibudayakan lewat pertanian dan pabrik tepung Bogasari, menjadi terigu yang selanjutnya dijadikan berbagai bentuk makanan. Proses itu pula adalah kebudayaan. Demikian mengenai padi, buah-buahan, hewan. Semua itu adalah kebudayaan lewat usaha pertanian, peternakan atau pembudidayaan . Sekali lagi semua itu positif.

Sikap Kritis (bersambung)

Penulis Pdt. (Em) Cornelius Parintak M.Th adalah Pendeta Gereja Toraja. Saat ini menetap di Jakarta

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Switch to our mobile site