Published On: Fri, May 4th, 2012
Uncategorized | By admin

REINTERPRETASI DAN REAKTUALISASI BUDAYA TORAJA: Refleksi Seabad Kekristenan Masuk Toraja

Share This
Tags

SINOPSIS BUKU:
REINTERPRETASI DAN REAKTUALISASI BUDAYA TORAJA:
Refleksi Seabad Kekristenan Masuk Toraja
Editor: Bert T. Lembang
Kata Pengantar: Pdt. Dr. Sulaiman Manguling, MTh
Prakata: Drs. Philips Tangdilintin, MM

SAAT ini kita menyaksikan pesta rambu solo’ atau upacara kematian di Toraja semakn ”menggila”. Kalau beberapa tahun lalu hanya menghabiskan uang ratusan juta, kini pesta rambu solo’ telah menembus angka 3-4 milyar. Karena itu, di saat kita memperingai 100 Tahun Kekristenan masuk Toraja, ada baiknya kita menjadikan momen tersebut untuk melakukan reinterpretasi dan reaktualisasi terhadap budaya mantunu yang semakin kehilangan motif-motof sucinya.
Ironisnya, para pelaku dari ritual mantunu yang digerakkan oleh harga-diri semu alias gengsi itu, adalah umat Kristiani. Terutama Toraja perantauan yang merasa perlu membuktikan “keberhasilan” mereka di rantau. Suatu manifestasi aktualisasi-diri yang benar-benar eksesif! Kekristenan tidak lagi dianggap membawa warta gembira, melainkan justru membiarkan proses “kemiskinan kultural ganda” masyarakat Toraja. Pertama, miskin secara ekonomis karena memang ‘bermental miskin’: boros-konsumtif, kehilangan ethos kerja, malas karena ketergantungan pada kiriman keluarga dari rantau, short-cut alias instant mentality (ambil jalan-pintas). Kedua, kemiskinan budaya dalam arti kebangkrutan nilai-nilai budaya karena tergerus gengsi, yang praktis sudah menjadi ‘predator budaya’ karena mematikan nilai-nilai autentik Aluk yang menjadi sumber nilai-nilai budaya Toraja. Pengeroposan budaya ‘dari-dalam’ seperti ini memudahkan masuknya pengaruh ‘dari-luar’, baik yang masuk melalui pintu media-massa (hedonisme, materialisme, konsumptivisme) maupun penetrasi terencana melalui pintu ekonomi dan agama.
Budaya kita sedang mengalami pengeroposan dan pelemahan dari dalam serentak ancaman pelunturan dan penghancuran dari luar! Padahal budaya adalah satu-satunya faktor yang diharapkan masih dapat mengikat-satukan Toraja setelah dibelah-dua oleh (kepentingan) politik. Bahkan menyatukan seluruh insan Sang Torayan dimanapun mereka berada. Dalam konteks inilah perlu mengkritisi kembali penamaan dua kabupaten sebagai Tana Toraja dan Toraja Utara, yang justru menegaskan perpecahan. Mestinya kata-sakti “Toraja” tidak digunakan untuk menandai batas teritorial wilayah terpecah itu, agar tetap menjadi kata-kunci dan simbol entitas etnis-budaya yang mengikat-satukan setiap dan segenap insan Toraja di bawah kolong langit.
Kondisi ‘kemiskinan kultural’ (dibedakan dari ‘kemiskinan struktural’ yang disebabkan oleh struktur dan sistem politik yang meminggirkan rakyat kecil-lemah-miskin-tak berdaya karena lebih berpihak pada pemilik modal) inilah yang mendorong Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) Indonesia DPD Sulsel menyelenggarakan seminar Reinterpretasi Budaya Toraja untuk menyongsong peringatan Seratus Tahun Kekristenan di Toraja, 2013. Hasil seminar ersebut engan beberapa tulisan tambahan, telah diterbitkan penerbit GUNUNG SOPAI, Yogyakarta dengan judul: REINTERPRETASI DAN REAKTUALISASI BUDAYA TORAJA: Refleksi Seabad Kekristenan di Toraja.
Mengapa diperlukan reinterpretasi (penafsiran kembali)? Karena disadari bahwa penyebab dari ‘kemiskinan kultural ganda’ di atas justru berakar pada interpretasi gelombang pertama sejak 1913. Dkl, didorong oleh sense of crisis, kesadaran bersama bahwa KITA sedang menuju jurang kehancuran, sebagai dampak negatif dari interpretasi gelombang pertama. Interpretasi itu telah memisahkan Aluk dari Ada’ – dengan kata lain mencabut nilai religius Aluk – dan menghapus stratifikasi sosial (tana’ bulaan, tana bassi, tana’ karurun, dan tana’ kua-kua) tanpa instrumen pengganti yang sekurang-kurangnya sama kuatnya untuk membatasi pengurbanan. Justru status-sosial itulah yang menegaskan batas maksimal waktu dan jumlah hewan kurban dalam ritus rambu solo’ berdasarkan ‘kasta’ To Mate. Kekosongan nilai dan ketiadaan instrumen-pengendali itulah yang kemudian diisi oleh si ‘predator-nilai’ bernama gengsi! Maka reinterpretasi budaya dimaksudkan untuk mengembalikan makna/nilai religius Aluk serentak merumuskan bentuk-bentuk baru aktualisasinya yang lebih konstruktif. Kalau sudah dirumuskan dan disepakati dalam suatu Kombongan Kalua’ maka perlu didukung aturan bersama sebagai instrumen-pengendali, baik dari pihak Gereja-Gereja Kristen di Toraja maupun dari pihak Pemerintah Daerah (Perda). Dengan kata lain, re-interpretasi dan re-aktualisasi budaya Toraja harus menjadi Gerakan Bersama seluruh komponen Masyarakat Toraja. Masyarakat Toraja Perantauan, misalnya, perlu membangun tekad bersama untuk aktualisasi-diri secara konstruktif-kreatif sebagai pengganti pamer-gengsi (=harga-diri semu).

Bert T. Lembang

Displaying 4 Comments
Have Your Say
  1. pemaknaan kembali adat dan tradisi toraja bukanlah suatu pekerjaan yang ringan mengingat perkembangan kekinian yang sudah sangat menyesakkan. tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. ayo segenap komponen masyarakat toraja saling bergandengan tangan untuk mencari solusi demi masa depan anak cucu kita. mulailah dengan peneladanan. jangan seperti jemaat tongkonan layuk di jakarta dimana para orang tua menegur pemuda(i) yang menggunakan celana panjang ke gereja dengan alasan siri ta tu toraya, tapi mereka sendiri mengenakan perhiasan seperti toko emas berjalan. atau pengalaman saya di makassar dulu, ada seorang pendeta GT yang tidak mau memimpin ibadah keluarga kalau rumah jemaatnya tidak bisa dilalui mobil katana putihnya. mari kita memulai dari hal-hal yang kecil dengan menjadi teladan bagi generasi muda.

  2. pemaknaan kembali adat dan tradisi toraja bukanlah suatu pekerjaan yang ringan mengingat perkembangan kekinian yang sudah sangat menyesakkan. tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. ayo segenap komponen masyarakat toraja saling bergandengan tangan untuk mencari solusi demi masa depan anak cucu kita. mulailah dengan peneladanan. jangan seperti jemaat tongkonan layuk di jakarta dimana para orang tua menegur pemuda(i) yang menggunakan celana panjang ke gereja dengan alasan siri ta tu toraya, tapi mereka sendiri mengenakan perhiasan seperti toko emas berjalan. atau pengalaman saya di makassar dulu, ada seorang pendeta GT yang tidak mau memimpin ibadah keluarga kalau rumah jemaatnya tidak bisa dilalui mobil katana putihnya. mari kita memulai dari hal-hal yang kecil dengan menjadi teladan bagi generasi muda.

  3. J.A. Merapi says:

    Mohon info bagaimana cara memesan (alamat)

  4. J.A. Merapi says:

    Mohon info bagaimana cara memesan (alamat)

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Switch to our mobile site