Published On: Mon, Jul 25th, 2011
Uncategorized | By admin

SEJARAH SINGKAT PAHLAWAN NASIONAL PONGTIKU

Share This
Tags


RANTEPAO (TCN)– Pemerintah Kabupaten Toraja Utara melaksanakan upacara bendera dalam rangka memperingati hari pahlawan nasional Pongtiku yang ke-9 yang dipusatkan di lapangan Sepakbola Pongtiku dan Taman Makam Pahlawan Pongtiku di Pangala’ Kecamatan Rindingallo Kabupaten Toraja Utara, Senin (18/7). Citizen Reporter TCN, Tamar Pambunan mengirimkan sejarah singkat Pahlawan Nasional Pongtiku berikut ini yang dibacakan pada upacara peringatan tersebut.

Pongtiku lahir sebagai anak bungsu dari pasangan suami istri Karaeng dan Le’bok pada petengahan Abad ke XIX (1846) di Tondon Pangala’. Karaeng adalah penguasa adat Pangala’ dan sekitarnya. Karena kemampuan dan kepemimpinan Pongtiku yang menonjol, maka sekalipun ia anak bungsu dialah yang menggantikan ayahandanya sebagai penguasa tatkala ayahnya sudah tua.

Sebelum Angkatan Perang Belanda datang di Tana Toraja, orang Toraja telah mempunyai hubungan dagang dengan orang Bugis.

Toraja Selatan dan Toraja Barat menjalin hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan Sidenreng, Rappang dan Sawito sedang Toraja Utara mitra dagangnya adalah kerajaan Bone dan Luwu.

Pimpinan orang Bugis dan kerajaan-kerajaan Sidenreng, Rappang dan Sawito adalah Petta Manyoro Lolo (Panglima Angkatan Perang Kerajaan Sidenreng) yang kemudian diketahui bernama Petta Serang, anak dari Raja Sidenreng, sedang pimpinan orang Bugis dari Kerajaan Bone dan Luwu adalah Petta Punggawa (Panglima tertinggi Angkatan Perang Bone, yang juga adalah Putra mahkota dengan nama Andi Baso’ Abdul Hamid)

Melalui hubungan dagang antara orang Bugis dan orang Toraja tersebut pemimpin-pemimpin Toraja dapat mengetahui bahwa akan pecah perang antara Pemerintah Hindia Belanda dengan Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Selatan yang tidak mau lagi mengakui Perjanjian Bungaya yang mengatur hubungan antara Pemerintah Hindia Belanda dengan Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Selatan yang sangat merugikan.

Untuk mengantisipasi perang yang akan pecah dalam waktu tidak lama penguasa-penguasa Toraja mengadakan musyawarah di Tongkonan Buntu Pune Kesu’ (Kediaman Pongmaramba’) dan mencapai kesepakatan antara lain :

Menggalang persatuan antar penguasa dengan menghilangkan semua benih-benih perpecahan dan mengangkat Pongtiku Panglima Perang sedang Pongmaramba’ dan penguasa-penguasa adat lainnya sebagai Panglima Pasukan Penghancur.

Kesepakatan mereka didasari motto : “Misa’ Kada Dipotuo Pantan Kada Dipomate”.

Selesai musyawarah, Pongtiku kembali ke daerahnya untuk mempersiapkan dan menyiagakan benteng-bentengnya sebanyak 9 (Sembilan) buah menghadapi perang.

Pada bulan Maret 1906, pasukan Angkatan Perang Belanda di bawah Pimpinan Kapten Killian dengan tujuan melucuti dan mengumpulkan senjata api dari semua penguasa Toraja. Komandan pasukan Belanda memerintahkan Pongtiku datang menghadap dan menyerahkan semua senjata yang dimilikinya. Pongtiku menolak, malah ia menyiagakan semua benteng-bentengnya menghadapi perang.

Perang perlawanan Pongtiku dalam daerahnya sendiri berlangsung selama kira-kira 6 bulan (Mei s/d Oktober 1906) dengan 6 kali pertempuran dan 1 kali pengepungan selama kira-kira 4 bulan (Juli s/d Oktober 1906).

Pertempuran tanggal 1 Juni 1906 untuk mempetahankan Benteng Buntu Asu dari serangan Angkatan Perang Belanda di bawah Komando Kapten De Last yang dilakukan dalam 3 gelombang semuanya kandas di muka Benteng dengan menelan banyak korban, Angkatan Perang Belanda dipukul mundur dan dihalau kembali ke Rantepao.

Pongtiku adalah penantang utama datangnya penjajah Belanda di Tana Toraja dan Toraja Utara dan dengan gigih dan gagah perkasa dengan segala kemampuan yang ada padanya mengobarkan perang lebih setahun lamanya, tepatnya dari bulan Mei 1906 s/d Juli 1907.

Ia bertahan dan menyerang musuhnya dari benteng-benteng yang jumlahnya 9 buah yang telah dipersipakan sejak dini. Perang Pongtiku melawan Belanda bukanlah tindakan spontanitas akan tetapi adalah perang yang direncanakan dan dipersiapkan dengan matang yangn merupakan bagian integral dari perang perlawanan Raja-Raja di Sulawesi Selatan terhadap Pemerintah Kolonial Belanda disebut sebagai Perang Bone III. Demikian hebatnya pertahanan dan perlawanan Angkatan Perang Pongtiku terhadap gempuran Angkatan Perang Belanda, mengharuskan Letjen Swart yang dijuluki oleh Belanda sebagai Pasifikator Van Aceh (Pengaman Aceh) mengambil Komando pertempuran melawan Angkatan Perang Pongtiku yang bertahan tak terkalahkan dalam Benteng Batu di Baruppu’.

Belanda dengan menggunakan taktik seperti taktik yang digunakan terhadap Pangeran Diponegoro, Pongtiku menerima Case Fire, untuk mengadakan perundingan perdamaian dengan Belanda. Kesempatan ini digunakan oleh Belanda untuk membatasi gerak Pongtiku, tetapi Pongtiku menggunakan pula kesempatan yang sama untuk menyelenggarakan Upacara Pemakaman kedua orang tuanya yang wafat dalam Benteng menurut adat Toraja. Sehari sebelum selesai upacara pemakaman kedua orang tuanya, Pongtiku dengan sejumlah pasukan kembali ke medan juang bergabung dengan teman-teman seperjuangannya di Benteng Ambeso yang dipimpin oleh Bombing dan Ua’ Saruran dan Benteng Alla’ dalam Wilayah Enrekang.

Setelah Benteng Ambeso dan Benteng Alla’ jatuh ke tangan Belanda pada Bulan Januari 1907 Pongtiku tidak tertawan, ia berhasil lolos bersama pasukannya kembali ke wilayah kekuasaannya. Dengan petunjuk mata-mata Belanda ia tertangkap lalu di bawa ke Rantepao. Tanggal 10 Juli 1907, ia dieksekusi dan gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa di pinggir Sungai Sa’dan, tepatnya di tempat dimana Tugu Peringatan baginya didirikan di Singki’ Rantepao.

Meneliti sejarah perjuangan bangsa melawan Pemerintah Hindia Belanda dapatlah diketahui bahwa Pongtiku adalah penantang terakhir yang mengobarkan perang klasik terakhir tahun 1906-1907 di Wilayah Sulawesi Selatan sesuai sumpah yang diucapkannya “Iatu Tolino Pissanri Didadian sia Pissanri Mate Iamoto Randuk Domai Tampak Beluakku Sae Rokko Pala’ Lette’ku Nokana’ Lanaparenta Tumata Mabusa” (Manusia hanya sekali dilahirkan dan mati, dari ujung rambut sampai telapak kakiku saya tidak akan rela diperintah oleh Belanda)

Pengorbanan tidak sia-sia karena setahun setelah Pongtiku gugur tahun 1907. Pada tahun 1908 bangkitlah perlawanan modern yang dimulai dengan gerakan Budi Utomo atau Kebangkitan Nasional yang disusul dengan perlawanan-perlawanan dari pahlawan dan pejuang-pejuang bangsa yang mencapai puncaknya pada Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.

Berdasarkan perjuangan Pongtiku, Pemerintah RI melalui Keputusan Presiden RI Nomor : 073/TK/2002 tanggal 6 Nopember 2002, Pongtiku ditetapkan dan disahkan sebagai Pahlawan Nasional.

Demikian riwayat singkat Pahlawan Nasional Pongtiku

Dikirim Oleh: Tamar Pambunan
(Sumber : Dinas Sosial Kab. Toraja Utara)

Displaying 8 Comments
Have Your Say
  1. Ambeso says:

    “Setelah Benteng Ambeso dan Benteng Alla’ jatuh ke tangan Belanda pada Bulan Januari 1907 Pongtiku tidak tertawan, ia berhasil lolos bersama pasukannya kembali ke wilayah kekuasaannya”.

    Ini perlu diluruskan:
    1. Pongtiku tidak pernah berperang di Buntu Ambeso, apalagi di Benteng Alla’. Pongtiku meninggalkan Buntu Ambeso kembali ke Rantepao, sebelum peperangan dimulai.
    2. Pongtiku tidak membawa pasukan ke Buntu Ambeso. Dia hanya disertai 15 orang termasuk istri-istrinya.

    Sumber Data: Perang Buntu Ambeso/Benteng Alla’, Pemda Tana Toraja, 1968.

  2. Pendapat yang sama dengan “Ambeso”, dipertegas dengan hasil penuturan para tetua adat/masyarakat di sekitar Benteng Ambeso – Benteng Alla’ yang mana mereka tidak mengenal, bahkan tidak pernah mendengar nama Pongtiku ketika terjadi peperangan di kedua benteng ini.

  3. Tinus Boro says:

    Menurut kisah ceritra dari nenek saya yang bernama ne’Tominaa ne’Pongrante anak dari ne’Saleppang yang juga salah satu anak bua ne’baso ketika itu bahwa Ne’pongtiku tidak perna di tawan oleh belanda melainkan selalu di incar keberadaanya sampai dia di temukan sedang mandi di sungai kemudian di tembak oleh Belanda.

  4. jany says:

    Ngak ada yang mengangkat pong tiku sebagai panglima perang pada kesepakatan buntupune.Tujuan pertemuan di buntupune untk menjalin komunikasi dan menggalang pemimpin2 agar lebih mempersiapkan diri dalam pertahanan di masing2 wilayah.Itu yang perlu juga diluruskan.

  5. Sampurari says:

    Kita bersyukur bahwa Pemerintah RI telah mengangkat Pejuang Pong Tiku menjadi Pahlawan Nasional!
    Mari mendudukkan sejarah pada fakta yang sebenarnya. Ingat Para Pejuang dari Daerah Toraja dan Enrekang:Pong Tiku,Bombing,Ua’Saruran,Pong Maramba dan banyak lagi Tokoh tokoh Toraja
    lainnya yang ikut memimpin Perjuangan melawan Belanda. Mereka semua berjuang demi untuk menegakkan harga diri dan membela rakyat. Dan saya yakin tidak ada seorangpun di antara mereka yang berjuang hanya demi agar kelak dapat dikenang sebagai Pahlawan.Tidak!. Jadi marilah kita dudukkan sejarah pada jalannya.Tidak usah kita belok-belokkan relnya demi menonjolkan pejuang yang satu dan menafikan Pejuang yang lain.Ingat:Sejarah adalah Fakta!bukan rekayasa!.
    Fakta Sejarah tentang Benteng dan Perang Ambeso:
    1. Benteng Ambeso adalah benteng pertahanan Pasukan Bombing dan Ua’Saruran.
    2.Pong Tiku ke Benteng Ambeso adalah untuk berlindung setelah benteng pertahanannya di daerah Pangala direbut Belanda. Fakta ini didukung oleh:
    a. Pong Tiku datang dengan keluarga yang diantaranya ada perempuan dan tidak membawa pasukan dari Pangala’.
    b. Adanya Ultimatum pihak Belanda kepada: Bombing, Ua’saruran dan Para Pejuang di Buntu Ambeso agar menyerahkan Pong Tiku kepada pihak Belanda namun ditolak oleh Bombing,Ua’saruran dan Pejuang Lainnya di Buntu Ambeso.
    Tawaran ini dijawab Bombing dengan semboyan”Laditeteirika tu langi’ ladiapari tu balili’ ketangladipake parari”. Suatu Jawaban Perang kepada Belanda.
    C. Pong Tiku disarankan oleh Bombing dan Ua’Saruran untuk kembali melanjutkan Perjuangan di bagian Utara daerah Toraja sehingga sebelum pecah Perang di Benteng Ambeso Pejuang Pong Tiku telah kembali ke daerah utara Toraja.
    Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Pejuang dan Pahlawan Nasional Pong Tiku, saya menuliskan ini semoga bisa menjadi masukan bagi kita semua untuk lebih mencintai, menghargai dan menghormati nilai-nilai luhur yang diperjuangkan para pahlawan RI,termasuk Pejuang dari Toraja.
    Kepada Pemerintah di tiga daerah:Pemkab Enrekang, Pemkab Tana Toraja dan Pemkab Toraja Utara kiranya perlu dipikirkan untuk membentuk Tim Penyusun Sejarah Perjuangan Masyarakat Toraja termasuk Enrekang melawan Belanda. Yang nantinya Tim ini yang akan menghimpun fakta-fakta sejarah yang bersumber dari : Pelaku sejarah (Seandainya masih ada yang hidup saat ini), Para Ahli Sejarah di Sulawesi Selatan dan bahan-bahan sejarah Toraja yang tersimpan di Negeri Belanda . Semoga hasilnya nanti bisa dirangkum dalam sebuah buku dan bisa menjadi referensi sejarah perjuangan Masyarakat Toraja melawan Belanda. Dan juga menjadi bahan pelajaran sejarah (Muatan Lokal)bagi sekolah-sekolah di Enrekang.Tana Toraja dan Toraja Utara, sehingga sejak dini anak diperkenalkan dengan Fakta Sejarah yang pernah terjadi di daerahnya. Karena adalah sangat miris melihat kenyataan sekarang ini, Orang Toraja lebih hafal sejarah/Tokoh Perjuangan di daerah lain(bukan berarti ini hal yang tidak boleh)melalui pelajaran sejarah nasional di bangku pendidikan tetapi sebagian besar dari kita tidak tahu siapa itu: Bombing,Ua’Saruran,Pong Maramba’, dan Tokoh-Tokoh Pejuang Toraja lainya……?

  6. Saya kira setiap perjuangan seperti yg dilakukan oleh para pejuanng Toraja ini pastilah secara kolektif.Akan tetapi ada satu yg lebih menonjol dan itulah yg muncul, itu berarti bahwa kontribusi para pejuang yg lain bukan tdk terakomodir tapi telah terwakili dalam satu tokoh.Sekarang tugas kita sebagai generasi penerus marilah kita berjuang memerang ketebelakangan, kebodohan dan kemiskinan sehingga cita2 para pejuang pendahulu kita untuk membangun masah yg lebih baik dan setara dengan bangsa lain akan kita dapatkan melalui. Bravo generasi mudah Toraja Bravo,mari kita bangkit membangun kebersamaan.Generasi muda Toraja PASTI BISA & PASTI MAMPU.

  7. Zero says:

    pahlawan bagi daerah, tapi bukan pahlawan nasional.memangnya waktu itu indonesia sudah ada?.lagian jasanya juga kecil, karena hanya bertahan doang, tapi tidak berhasil mengusir penjajah.jadi staus pahlawan nasional itu perlu dikaji, termasuk tokoh2 lainnya yang sudah terlanjur disebut pahlawan. coba dipikir, apa bedanya jika mereka langsung menyerah saat itu? mereka memutuskan melawan, ujung-ujungnya kalah kan? jadi cukuplah pong tiku ini dikenang sebagai tokoh, dan legenda toraja, bukan pahlawan..terima kasih

    • juan says:

      Zero…. punya otak tapi Tumpul…. kalau gitu gimana dengan semua pahlawan yang ada di nusantara apa mampu mengusir penjajah!!! apa mereka menyerang ke belanda!!!!! ingat kawan kita itu dijajah 3 stengah abad pendahulu kita itu hanya bisa bertahan,dibuang,diasingkan,ditembak mati! dan itu fakta!… tetapi mereka tetaplah pahlawan melawan hanya demi kebebasan!!! ngerti !!! sederhana saja Jadi biarlah orang toraja menghargai pahlawannya… yang tidak senang tidak usalah berkomentar mengada-ada… malah memperlihatkan betapa bodohnya dirinya,… betapa tumpulnya otaknya…!!! terimakasih… like SAMPURARI…

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Switch to our mobile site