Published On: Thu, Jul 14th, 2011
Uncategorized | By admin

Pong Tiku Dulu dan Nasib Sahabatnya Kini

Share This
Tags

PONG Tiku dikenang baik di Tana Toraja. Sejarah perjuangannya ditulis laiknya pejuang sejati. Dia memang berprediat pahlawan nasional. Sementara 23 sahabatnya, kelompok yang ikut berjuang pasca-pengasingan tahun 1917, hingga kini masih diliputi kontroversi.

Penjajah Belanda mengecap para sahabat Pong Tiku sebagai pemberontak. Dan, meski Agustus 2011 nanti, kolonialisme sudah 66 tahun enyah dari Indonesia, namun kesan “the torajan rebel”, pemberontak Toraja, bagi ke-23 sahabat seperjuangan sang pahlawan nasional itu, hingga kini masih terus dialamatkan penjajah kepada mereka dan keluarganya.

Dan kini, bahkan terkesan dibiarkan dan terus “dikhutbahkan” dalam lembaga keagamaan.

Inilah yang melatar belakangi munculnya tulisan ini. Sebagai keluarga para sahabat Pong Tiku, kami merasa perlu membela diri. Setidaknya, tulisan ini muncul masih dalam suasana perayaan meninggalnya Pong Tiku, yang diperingati saban 10 Juli.

Sembilan puluh empat tahun silam, tepatnya 10 Juli 1907 di tepian Sungai Sa’dan di sekitar Singki’, Rantepao (kini di belakang kantor Bupati Toraja Utara saat ini) Pong Tiku tewas dieksekusi secara licik oleh serdadu Belanda. Konon 2 saudaranya tewas di tangan anak buah Pong Tiku. Ada pengkhianatan.

Darahnya tumpah tidak hanya membasahi bumi Toraja, Tana Matarik Allo – Tondok Lepongan Bulan, tetapi juga melintasi Tana Enrekang – Bumi Mansenrempulu, serta Bumi Sawitto, kini berada di Pinrang, sebelum akhirnya mengalir ke Selat Makassar mengikuti aliran Sungai Sa’dan.

Sampai Maret 1906, Tana Toraja masih steril dari tangan penjajah Belanda. Namun ancaman sebenarnya sudah dirasakan sejak pertengahan 1905. Kala itu, serbuan serdadu Belanda sudah memasuki wilayah Duri, arah selatan Tana Toraja dan dari arah timur lebih duluan bercokol di Palopo.

Kondisi ini disikapi para pemuka masyarakat dan penguasa adat se Tana Toraja bermusyawarah. Tujuannya menghilangkan benih perpecahan sekaligus menyatukan sikap dan kekuatan melawan serdadu Belanda. Pertemuan dilaksanakan September 1905 di Buntu Pune dekat Ke’te’ Kesu’. Sebagian Warga Toraja, mengenal dengan Ikrar Buntu Pune.

Pertengahan Maret 1906, pasukan kompeni Belanda berkekuatan 150 serdadu bersenjata lengkap dipimpin 3 perwira dibawah komando Kapten Infantri Kilian memasuki wilayah Tana Toraja dari arah timur/Palopo tanpa menghadapi perlawanan. Para penguasa adat dan tokoh masyarakat khususnya yang berdomisili di dataran rendah ternyata tidak konsisten pada Ikrar Buntu Pune.

Namun tidak demikian bagi Pong Tiku yang berdomisili di punggung Bukit Lolai dan di balik Gunung Sesean. Ia tetap kokoh pendiriannya melawan Belanda sebagaimana diikrarkan di Buntu Pune. Sebaliknya, ia memperkuat benteng pertahanannya yang tersebar di berbagai kampung.

Meskipun dipertahankan dengan gigih, gempuran artileri serdadu Belanda memaksa Pong Tiku meninggalkan bentengnya satu per satu dan akhirnya bertahan di benteng Buntu Batu yang tidak bisa ditembus.

Dengan tipu muslihat melalui ajakan berunding, Pong Tiku akhirnya ditangkap dan dieksekusi di Singki’, Rantepao. Ini sekaligus menandai berakhirnya peperangannya melawan Belanda dalam kurun waktu 14 bulan.

Pong Tiku dikenang dengan baik dan para peneliti sejarah banyak yang tertarik menulis sejarah perjuangannya. Demikian juga ketika diusulkan sebagai Pahlawan Nasional semua pihak mendukung sampai akhirnya secara resmi Pong Tiku ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia.
Setelah kematian Pong Tiku nyaris tidak ada lagi perlawanan bersenjata dalam skala besar. Namun, rahasia diantara para sahabat Pong Tiku yang masih menyimpan rencana melawan Belanda terus ada:

1.Tandibua’
, saudara sulung Pong Tiku yang langsung mengambil alih tampuk pimpinan pemerintahan (Kepala Distrik) di Pangala’, setelah kematian Pong Tiku. Ia masih menyimpan dendam atas kematian adiknya. Melalui operasi rahasia bersama pejuang lainnya, mereka berjuang.

2. Ne’ Matandung,
Kepala Distrik/Puang Balusu sudah lama memendam kebencian terhadap Belanda karena kecongkakan dan kekejamannya. Dibenaknya tersimpan rencana untuk membalas sekaligus untuk menebus kekhilafannya karena tidak konsekwen dengan Ikrar Buntu Pune. Para pejuang militan dibawah pimpinan Pong Massangka selain secara moril juga dalam bentuk materi berupa uang tunai 100 gulden dan 1 ekor kerbau untuk membiayai kegiatan operasional merealisasikan rencana perjuangan.
3. Pong Massangka , salah seorang pejuang yang relatif lebih muda (sebaya Pong Tiku) sejak kedatangan Belanda di Tana Toraja tidak pernah menunjukkan sikap tunduk kepada Belanda apa lagi menyerahkan senjatanya.

Sikap tegas ini dihargai para seniornya seperti Pong Arung, Ne’ Matandung dan Tandibua’ serta para tokoh masyarakat lainnya. Kini di Toraja Utara, tetapi juga secara intensif menjalin komunikasi dengan para penguasa adat diluar Toraja Utara antara lain dengan Puang Sangalla’ dan Puang Mengkendek dari wilayah Selatan, Pong Simpin dari wilayah Timur dan Bombeng serta Wa’ Saruran dari wilayah Barat.

Pong Massangka lalu terpanggil mengkonkretkan semangat perjuangan bawah tanah para pejuang dalam suatu wadah dengan nama sandi “UNTENDANNI SALU SA’DAN” artinya mengatasi arus yang disimbolkan penjajah.
Untuk memudahkan operasionalnya maka mulailah diintensifkan komunikasi rahasia para pejuang lewat Poros Perlawanan Balusu-Pangli/Bori’-Pangala’ di Utara terus ke Pantilang di Timur, Sangalla’ dan Mengkendek di Selatan serta Rembon dan Buakayu di Barat.

Sesuai kesepakan para pejuang ditetapkanlah target utama waktu itu yakni membunuh Controleur sebagai penguasa tertinggi pemerintah kolonial Belanda di Toraja untuk memberikan shock terapi dan kekacauan bagi serdadunya sehingga diharapkan dapat lebih mudah dilumpuhkan.
Namun sangat disayangkan sebelum terlaksana, para pejuang justru tersandung pembunuhan seorang misionari berkebangsaan Belanda, AA Van de Loosdrehct di Rantedengen Bori’, 26 Juli 1917 patut disesalkan karena:
1.Yang bersangkutan bukanlah target yang direncanakan sehingga mengacaukan rencana mulia para pejuang untuk membebaskan orang Toraja dari penindasan dan pemerasan rezim kolonial Belanada.

2. Pejuang yang sebenarnya adalah ksatria justru dicap Zending dan kalangan gereja sampai hari ini, sebagai para gerombolan avonturir yang haus darah,penjahat dan pembunuh pendeta serta para gembong judi, suatu kumpulan istilah yang sangat tidak bersesuaian dengan dasar ajaran kristiani yakni cinta kasih.

3.Para pejuang harus membayar dengan pengorbanan besar jauh melebihi korbannya yang hanya 1 orang dibanding 23 orang harus menjalani hukuman di tempat pembuangan sebagian diantaranya (antara lain : Ne’ Matandung,Tandibua’, Pong Mangoki’ dan masih banyak yang lain) harus kehilangan nyawa di pengasingan.

Pong Massangka pun nyaris tidak kembali seandainya tak mendapat remisi hukuman 7 tahun dari total hukuman 20 tahun. Ini penghargaan atas keberhasilannya menangkap macan yang sudah banyak menelan korban termasuk anak Kepala Penjara di Nusakambangan.

Segera setelah peristiwa tersesebut perlawanan mereka langsung ditumpas dan para pejuang berjumlah 23 orang diasingkan ke berbagai tempat di Indonesia seperti Nusakambangan, Digul-Tanah Merah dan Sawah Lunto. Setelah itu, praktis tidak ada lagi pergerakan yang mengancam pemerintah kolonial Belanda sehingga lebih muda menjalankan pemerintahannya namun suatu kesyukuran bahwa sejak itu faktor pemicu perlawan para pejuang mulai dihindari dengan lebih mengutamakan pendidikan.

Ketika Tana Toraja dipimpin Bupati Lethe 1961, lalu D.S Rante Salu tahun 1964 pihak keluarga para pejuang mencoba mengusulkan agar perjuangan mereka mendapat pengakuan memang sempat diteruskan ke Kodam XIV Hasanuddin. Namun tak berhasil karena mendapat resistensi dari lembaga keagamaan terbesar di Tana Toraja.

Demikian halnya Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata enggan menulis sejarah ini karena khawatir akan mendapat tantangan yang sama meskipun sudah diusulkan sejak 2009.

Terakhir ketika sejumlah orang memprakarsai sebuah seminar yang diadakan pada tanggal 24 Juni 2011 di suatu tempat di Toraja Utara yang bertujuan mendiskusikan hal-hal kontroversi yang masih berkembang sampai kini khususnya yang mendiskreditkan para pejuang, pihak Gereja Toraja yang sangat diharapkan kehadirannya justru tidak memenuhi undangan panitia meskipun panitia sudah bersusah payah menghadirkan pakar sejarah dari Universitas Hasanuddin, DR. Edward L. Poelinggomang MA, sebagai salah seorang pembicara.
Bupati Toraja Utara, Drs. Frederik Batti Sorring MM, yang membuka acara seminar tersebut juga sempat mengutarakan kekecewaannya akibat ketidakhadiran pihak-pihak yang diundang.

Penulis:Daniel Pong Massangka
Pemerhati Sejarah asal Tana Toraja

Sumber: Tribun Timur.com

Displaying 13 Comments
Have Your Say
  1. Oktoviktor says:

    Kakek ayah saya (kakek buyut saya) ne’ limbong salah seorang dr 23 org yg di buang (dipali’). Emtah dibuang kemana dan tidak ada kabar beritanya.. Bahkan kuburnya pun entah dimana.
    Ada beberapa org yg bisa pulang termasuk pong massangka dan ne rego..

  2. platoz99 says:

    Yahh tanya kenapa seharusNya kita masih perlu membaca lebih banyak lagi buku-buku Zending agar tahu apa latar belakang pembunuhan Var der Lostdrerch oleh Pong Masangka’ secara jujur dan terbuka…. Jadi wajar Gereja Toraja Punya bukti tertulis dan sampai sekarang masing tersimpan dibelanda baik melalui Zending yang menuliskan siapa pong masanka’ dan arsip pemeritah kolonial belanda.. sedangkan dari pihak pong masangka hanya punya cerita dari mulut kemulut jadi apakah sumber ini dapat dipercaya????

    • Daud Atte says:

      Tulisan di atas menggelikan, susi ulelle’na Tulang Didi’. Bagaimana mungkin penjahat sekaliber Ne’ Matandung dan Pong Massangka dipuja oleh Daniel Pong Massangka.
      Cobalah anda lebih cerdas dengan membaca beberapa literatur seperti:
      1. TANA TORAJA (A Social History of an Indonesian People), Terance W. Bigalke
      2. Dari Benih Terkecil Tumbuh Menjadi Pohon, Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja
      3. Pongtiku Pahlawan Tana Toraja, Arrang Allo Pasanda.

      Lalu anda sanggah tulisan tersebut dengan tulisan ilmiah, bukan cerita picisan.

      Bisa?

  3. Belo says:

    Menarik bagi saya untuk di Gali dan di Pelajari Bersama-sama, bagi saya kalau melihat dari sisi Positif, mungkin Toraja tidak akan seperti ini jika kejadian ini tidak terjadi, atau mungkin Toraja akan mayoritas memeluk Agama Islam. ini adalah rencana Tuhan.

    Seandainya kita adalah pelaku sejarah di jaman itu, mungkin kita akan sama atau lebih kejam lagi… karena kita belum mengetahui apa itu Agama Kristen?.

  4. Dinni Pallawa G says:

    Aku sependapat dengan saudara Daud Atte…
    Sebenarnya yang mengundang Belanda datang ke Tanah Toraja adalah Ne’Matandung aka sakka dengan tujuan untuk menguasai sang lepongan Bulan….
    Emang dia ikut sebagai salah satu pemrakarsa melawan penjajah di buntu puneh tapi dibalik semua itu terselip rencana licik yang ternyata membahayakan dirinya sendiri….setelah tau ternyata rencananya gagal maka dia menyatakan menyesal dan bergabung melawan belanda…
    Pantaskah disebut pahlawan?? Say NOT

  5. tidak susah untuk meneliti apakah layak pong masangka diberi penghargaan. banyak literatur yang telah ditulis tentang sepak terjangnya dan terutama dapat menanyakan langsung dengan masyarakat sekitar bori, dan parinding. sebenarnya kalau pong daniel jeli dan mau sedikit reseach tentang kehidupan leluhurnya, tulisan diatas saya yakin gak akan muncul. masiri’ki’ sangmane

  6. Pong Rannu says:

    Tulisan Pak Daniel sangat menarik karena membahas kisah perjuangan pejuang Toraja dari sisi lain yang selama ini belum diketahui secara umum. Kita tidak perlu resisten terhadap tulisan ini bersinggungan dengan kehadiran agama kristen di Toraja. Terlepas dari posisi subjektif penulis sebagai cucu pejuang yang merasa dikorbankan, justru menurut saya tulisan ini sangat bagus untuk mulai merenungkan dampak kehadiran agama kristen di Toraja. Terlalu sering agama kristen merasa diri paling benar sehingga banyak sekali nilai-nilai luhur dalam budaya toraja sudah semakin kabur karena dikafirkan oleh agama kristen.
    Sangat naif rasanya bila kita berpikir bahwa kehadiran agama kristen di toraja adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran. Jadi apakah nenek moyang kita yang sudah hidup dengan nilai luhur budaya toraja pada saat sebelum agama kristen datang dianggap kafir?
    Saya berani mengatakan bahwa cara hidup kita di toraja dalam menyikapi budaya toraja sangat penuh kemunafikan akibat peran gereja. Kita hidup dalam dua pertentangan akibat agama (kristen?) selalu meyakini dirinya sebagai sumber pembenaran.
    Saya yakin Tuhan telah berkarya di bumi Toraja jauh sebelum agama kristen datang di menginjakkan kakinya, dan itu terwujud dalam budaya toraja yang di dalamnya banyak terkandung nilai-nilai luhur yang selaras ajaran Kristus. Kini saatnya bagi kita untuk berani mengoreksi apakah kehadiran agama kristen di Toraja sungguh sudah menjadi wujud kehadiran Tuhan atau malah sebaliknya?

    • Saya juga berterima kasih atas tulisan Pak Daniel yang bisa menjadi bahan referensi untuk belajar sejarah Perjuangan Orang Toraja di masalah silam.
      Awal Kehadiran Agama Kristen di Wilayah Toraja dan Perjuangan Masyarakat Toraja melawan Penjajah Belanda adalah dua peristiwa yang terjadi pada waktu/era dan tempat yang bersamaan sehingga hubungan historis keduanya adalah sulit untuk dipisahkan.
      Sebagai pemeluk Kristen, saya sangat setuju bahwa kita senantiasa harus merenungkan dan mempertanyakan pada setiap diri kita sebagai bagian tak terpisahkan dari Gereja/Tubuh Kristus, apakah pribadi kita benar-benar telah berubah dan menjadi Gereja yang memberi dampak yang baik dan positif –memancarkan kasih, kebenaran dan Kemuliaan Allah di manapun kita berada saat ini? Termasuk kita yang ada di Toraja
      Bila setiap orang Kristen mau memberi diri kita untuk memahami dengan benar , taat dan setia melaksanakan ajaran Allah kita, maka kehadiran Gereja tentu akan membawa dampak yang positif bagi lingkungan di mana Gereja/kita berada(Menjadi garam dan terang).

      Pernyataan bapak Pong Rannu bahwa “Agama Kristen sering merasa diri paling benar……”,patut direnungkan. Apakah yang bapak maksud adalah Agama Kristen sebagai suatu ajaran-pemahaman Agama Kristen tentang kebenaran atau orang Kristen yang ada di Toraja?
      Kalau yang bapak Pong Rannu maksudkan adalah Pemahaman Agama Kristen tentang kebenaran seperti kalimat bapak di atas, maka menurut yang saya pahami agama Kristen memang mengajarkan Kebenaran yang sejati di dalam Tuhan Yesus Kristus.
      Tetapi seandainya yang bapak maksud adalah sikap dari oknum/ pribadi kita orang Kristen yang sering merasa diri paling benar dalam menyikapi suatu masalah juga perlu kita renungkan bersama. Karena tidak dipungkiri dalam keterbatasan pemahaman kita tentang kebenaran Allah, kita sering salah dalam menafsirkan akan arti kebenaran sejati itu sendiri. Sikap saling menghakimi-menyalahkan orang lain dengan mengatas namakan agama, dan bahkan memakai dalil agama untuk membenarkan tindakan dan perilaku kita yang sebenarnya justeru bertentangan dengan nilai kebenaran yang diajarkan dalam agama yang kita anut.
      Pendapat Bapak Pong Rannu tentang adanya nilai-nilai luhur Budaya Toraja yang telah
      Kabur dan dikafirkan oleh Agama Kristen, mohon dijelaskan nilai-nilai luhur yang mana yang bapak maksudkan tersebut?
      Karena menurut saya nilai-nilai luhur Budaya Toraja seperti:Sipakaboro’, siangkaran, misa’ kada, siangga’, siporannu, dll. Bukankah nilai-nilai Luhur Budaya Toraja ini adalah juga bagian dari inti dari ajaran agama Kristen yaitu kasih.
      Tetapi kalau menurut bapak memang ada nilai-nilai luhur di dalam budaya Toraja yang telah dikafirkan oleh agama Kristen, tolong disharing dengan kita untuk menambah wawasan kita tentang pemahaman budaya kita sebagai orang Toraja.
      Pernyataan Bapak Pong Rannu:”Sangat naif rasanya bila kita berpikir bahwa kehadiran agama kristen di toraja adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran. Jadi apakah nenek moyang kita yang sudah hidup dengan nilai luhur budaya toraja pada saat sebelum agama kristen datang dianggap kafir?
      Tanggapan saya:
      Kehadiran Agama Kristen dengan ajarannya di Toraja mestinya lebih arif dipahami secara kontekstual, sejak dari pertama agama Kristen hadir di Toraja, saat ini dan di waktu akan datang sehingga kita tidak terjebak pada pemahaman yang keliru/gamang tentang kebenaran yang diajarkan di dalam agama Kristen dan kita yakini sebagai penganut agama Kristen.
      Pemahaman tentang budaya leluhur kita orang Toraja memang sangat menarik untuk dielaborasi lebih dalam lagi .
      Khusus bagi nenek moyang kita yang hidup sebelum kebenaran Injil Kristus diwartakan di Toraja. Dengan dasar apa kita mau menyatakan mereka kafir? Sedangkan di sisi yang lain saat itu berita Injil belum sampai pada mereka?
      Hanya di sini perlu ditarik pemahaman jelas tentang ajaran “Aluk dan Pemali” dari para nenek moyang kita dahulu. Sehingga kita tetap dapat hidup dalam harmoni sebagai orang Toraja dengan keluhuran budayanya sekaligus sebagai orang Kristen yang setia di jalan kebenaran Kristus.
      Pendapat Pong Rannu :”Saya berani mengatakan bahwa cara hidup kita di toraja dalam menyikapi budaya toraja sangat penuh kemunafikan akibat peran gereja. Kita hidup dalam dua pertentangan akibat agama (kristen?) selalu meyakini dirinya sebagai sumber pembenaran.”
      Pendapat Saya:”Adalah sikap yang tidak bijak kalau kita mau menyalahkan peran Gereja seandainya ada sikap kita yang keliru dalam memahami budaya Toraja. Karena menurut saya yang terjadi selama ini kita hanya berhenti pada tema Budaya Toraja dalam arti yang sempit, artinya pemahaman yang berhenti pada persoalan bahwa setiap hal/tradisi yang pernah dipraktekkan/dilakukan oleh nenek moyang kita dahulu juga wajib kita laksanakan saat ini untuk menjaga kelestarian budaya Toraja. Pada hal pemahaman Budaya Toraja harus dilanjutkan pada pemikiran untuk dapat memilah mana tradisi/budaya yang masih sesuai untuk dipraktekkan dalam tema kekinian dan mana tradisi budaya yang sudah tidak tepat lagi untuk dilakukan saat ini. Dan di sinilah peran Gereja dituntut selalu hadir memberi pemahaman dan pencerahan agar jemaat tidak bingung dan bersikap rancu lalu mempertentangkan Gereja dan Budaya Toraja. Karena salah satu peran Gereja adalah mewartakan kebenaran yang bersumber dari Allah.
      Jadi saya tidak setuju kalau Pong Rannu mengatakan Agama Kristen selalu meyakini dirinya sebagai sumber pembenaran karena “Pembenaran” dan “Kebenaran” adalah dua hal yang berbeda.
      Tentang Karya Tuhan di Toraja, saya setuju karena semua alam raya ini adalah ciptaan dan karya Allah termasuk leluhur orang Toraja. Jadi marilah kita syukuri bersama bahwa Injil Kristus boleh hadir bagi masyarakat Toraja.
      Khusus bagi tingkah laku kita yang belum berkenan pada Allah saat ini, mari kita berubah …..!
      Salama’ Kaboro”

  7. Sampurari says:

    Menurut saya kita semua sepakat bahwa kita menghargai dan menghormati perjuangan Para Pejuang di masa silam, apapun bentuk dan peran mereka dalam perjuangan(Pemimpin,Panglima,Anggota Pasukan, Petani yang menyediakan logistik, dll).
    Nilai yang semestinya kita petik dari sejarah perjuangan para Pahlawan adalah “Kesadaran dan keberanian dari mereka untuk berjuang melawan ketidak adilan(Penjajahan)”. Suatu sikap yang tentu menuntut banyak pengorbanan,antara lain :Gugur, disiksa(Contoh:Di daerah Buakayu Bonggakaradeng ada keluarga Pejuang yang sampai dibakar hidup-hidup),diasingkan(dipali)dan banyak lagi penderitaan/pengorbanan yang harus dialami masyarakat pada masa perjuangan.
    Kita harus mengetahui sejarah tapi jangan lupa kita juga harus memaknai sejarah. Kedua hal ini tidak boleh dipisahkan karena kita harus memandang sejarah secara utuh. Karena bila kita hanya berhenti pada pengetahuan tentang kronologi suatu peristiwa bersejarah(waktu,tempat,proses dan Pelaku), maka sejarah hanya akan dimaknai sebatas sebagai suatu peristiwa masa lalu yang yng lambat laun akan terlupakan seiring perjalanan waktu. Seperti yang terjadi sekarang ini, seberapa besar jumlah dari kita Masyarakat Toraja yang masih ingat/tahu cerita Perjuangan Para Pendahulu kita di Toraja?
    Peniadaan pemahaman terhadap nilai-nilai luhur yang diperjuangkan para pejuang di masa silam akan membuat kita berhenti pada pada retorika dan romantika sejarah semata.
    Jadi saya mengajak kita semua untuk mari belajar peristiwa masa lalu dan memaknainya secarah utuh sehingga kita mampu memetik nilai-nilai luhur tentang:keadilan,kebebasan,kemerdekaan(HAM), kerelaan berkorban,persatuan. dll. Nilai-nilai yang akan senantiasa tidak pernah lekang oleh zaman untuk diperjuangkan!
    Kurresumanga’……..

  8. kaptenmakzak says:

    Sejarah ingin dibolak-balik, Pong Mansangka’ dijadikan pahlawan … sungguh sebuah fenomena pembodohan di era ke kinian … Bung Daniel Pong Masangka’ masih banyak cara lain yang lebih elegan untuk membuat sejarah yang baru di era yang baru pula tanpa harus merubah catatan sejarah sudah lebih ada.

  9. Beritasahih says:

    Coba anda pikir: apa tujuan para pejuang toraja menolak kristen?? TIDAK ADA! Satu2 nya alasan yang logis knp pejuang toraja menolak misionaris ini adalah karena mereka belanda (yg notabene semua dianggap penjajah). Siapa yang mau kampungnya dikuasai orang lain?? Pikir kembali!

    Poin berikutnya : mengenai tuduhan gereja toraja tentang sikap pongmasangka yang buruk (gembong judi). Tidak taukah anda apa itu norma? Saat itu judi di kalangan orang toraja dianggap sesuatu yang baik.. Jadi jangan gereja melihat dari kacamata sekarang..
    Dalam konsili vatikan ke II dirumuskan hubungan gereja dengan kepercayaan2 di luar kristen sbb : “bahwa roh kudus aktif bekerja di seluruh kehidupan semua umat manusia, menawarkan anugrah dan penyelamatan KEPADA SEMUA MANUSIA, entah mereka mengenal Yesus Kristus secara eksplisit atau tidak”.
    Saya percaya masyarakat toraja sudah mempunyai standar moral yang dituntun oleh roh kudus jauhhh sebelum zending datang ke toraja. Tidak ada hak mereka buat mengatakan adat kita buruk / tidak sesuai, demikian pula dengan norma..

    Gereja toraja SUDAH SEHARUSNYA meminta maaf kepada keluarga2 yang dikambinghitamkan di atas.

  10. fian says:

    Ya…saya sependapat dgn Bung Daud Atte, sbelum kita berdebat dsini ada bgusx klo kita baca ke3 referensi buku yg d mksud Bung Daud….
    Setelah kita membacax pasti kita akan mngerti jlan cerita yg sbenarx. Jangan krn merasa disudutkan shingga mengutarakan sesuatu peristiwa yg hax didengar dr mulut ke mulut sja… sebelum belanda masuk ke toraja, kondisi masyarakat toraja yg berada di kasta terendah / budak sangat memprihatinkan. Mereka diperjual belikan oleh penguasa ke daerah2 bugis.tidak ada kasih, yg kaya semakin kaya n yg miskin semakin miskin, kmudian kaum wanita tdk dianggap….
    Kita mmg dijajah oleh Belanda ttp lewat belanda zending bisa masuk, zending kmudian mncoba mmbuka skolah2 d toraja (itu smua adlh khendak tuhan). Jgn kita mempersalahkan agama atau oknum2 yg lain, tpi kita coba telusuri bukti2 yg ada, jgn ngotot dgn pendapat sendiri hax krn kturunan puang atw parenge’ atw krn benci gereja…
    Klo mw berpendapat yg profesional donk , tunjukkan bukti2 yg bsa dipercaya dan klo mmg dulunya nenek kita mmg salah yah apa salahx kita berbesar hati dan mengakuix… itu akan lebih jantan dan sangat terhormat ketimbang bersembunyi dibalik retorika2 yg tdk jelas…Slamat hr Pahlawan n Syalom

  11. Saya hanya ingin sampaikan bahwa kita harus pisahkan antara perlawanan terhadap belanda dan pembunuhan terhadap sang misionaris. Disinilah permasalahan yang berbeda. Kalopun ternyata sejarah yang dicatat oleh Belanda memberikan persepsi negatif kepada siapapun yang memberontak, tapi tetap kita harus ingat bahwa Belanda adalah penjajah, ketika pasukan Pong Massangka bertemu orang belanda siapapun dia pasti dianggap penjajah dan dibunuh.

    Saya berpikir bahwa latar belakang Pong Massangka yang keras sering disalahartikan oleh Belanda dengan cap pemberontak, perusuh dll…hal yang sama terjadi dimasa kini ketika ada orang yang keras melawan sesuatu hal, lalu di cap dengan kata kasar atau bahkan ejekan kasta terendah.

    Buat saya Pong Massangka adalah pahlawan dalam melawan penjajah belanda terlepas bahwa dia dan pasukannya salah target…ingat orang dulu menganggap sama semua orang berkulit putih karena ketidaktahuan mereka…

    Harusnya Gereja Toraja merangkul pihak keluarga bukannya malah terus melanggengkan polemik yg sudah menjadi masa lalu…

    Salam Perjuangan untuk Daniel Pong Massangka.

    Salam,

    Alexander Rony Sulung
    ronysulung@gmail.com

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Switch to our mobile site