Published On: Wed, Oct 24th, 2012
Uncategorized | By admin

Peoli Toraya Membuat Hantu Kota London Lari Terbirit

Share This
Tags

Ir. Agustinus Parinding

TCN.com — Agustus 2012 lalu, kami mengikuti Tour Amazing Europe mengunjungi tujuh (7) Negara di Benua Eropah. Negara Eropah pertama yang kami kunjungi adalah Inggris dan berkeliling di ibukotanya, London. Salah satu object wisata terkenal di London yang kami kunjungi adalah Museum Lilin Madame Tussauds. Di tempat ini, patung lilin tokoh dunia dipajang dengan ukuran sebenarnya. Dimana wajah, warna kulit, gaya dan busana yang dikenakannya sangat mirip dengan aslinya, sehingga mata sulit menemukan perbedaannya dengan yang asli saat melihat foto bersanding dengan patung-patung itu.

Patung tokoh dunia seperti Presiden John F. Kennedy, Adolf Hitler, Winston Churchil, Albert Einstein, Mahatma Gandi, Nelson Mandela, Presiden Barrac Obama, Queen Elisabeth, Pangeran Charles dll ada disini. Demikian juga mengenai tokoh film dan entertainer seperti Marlyn Monroe, Clint East Wood, Steven Spielberg, Jhony Depp, Brad Pitt, Angelina Jolie, Robert Pattison, Taylor Lautner, Britney Spears, Beyonce, Elvis Presley, Michael Jackson, dll juga ada. Ditambah lagi dengan tokoh olahraga seperti Muhammad Ali, Christiano Ronaldo, Tiger Woods, Michael Jordan dan banyak lagi.

Usai menonton dan berfoto dengan patung lilin, kami naik “London Taxi” berkeliling untuk melihat “London Tempoe Doeloe” didalam museum itu. Kehidupan London jaman dulu divisualisasikan dalam bentuk patung sehinga tampak hidup, misalnya kehidupan di pasar dimana tikus “nampak” berkeliaran dan orang sakit yang tidak terurus karena lemahnya perawatan medis dan sanitasi pada jaman itu.

The Haunted House.Copyright Norman J. Cabrera


Bagian terakhir yang dilalui adalah “Haunted House”, rumah angker / berhantu. Bagian ini sering dihindari oleh orang yang penakut. Akan halnya saya, apakah saya penakut? He he he he, tidaklah yaawww ….. ?!, apalagi bersama saya ada 3 orang cewek yang melihat saya sebagai Pangeran Pelindung, bahkan Dewa Penyelamat, yaitu: isteri, putri bungsu dan seorang mahasiswi dari Bandung.

Kami masuk kedalam antrian yang panjang. Selama antri itu terdengar beberapa teriakan kengerian dari dalam rumah hantu, sehingga ada orang yang keluar dari antrian dan memupuskan niatnya untuk melalui “Haunted House”. Saya sendiri? Gentar atau tidak? Gentar sih, degup jantung bagai berdentam, napas serasa memburu dan jemari tangan terasa dingin dan agak kaku. Tapi masa iya harus saya tunjukkan didepan cewek-cewek yang sudah terlanjur menggantungkan nyalinya kepada saya. “Be a man, be a gentleman”, kata saya kepada diri sendiri.

Akhirnya kami makin mendekati pintu masuk. Bayangan kengerian makin nyata mendengar jeritan peserta yang sedang berada didalam. Dari layar monitor yang diambil dengan Camera Infra Red kami bisa memantau “kengerian” dan sport jantungnya orang yang menguras adrenalin melalui “rumah berhantu ini”.

Akhirnya antrian siap untuk bergerak maju lagi. Pemandu mengingatkan kepada peserta dengan kata-kata “no punch”, “no kick” and “no touch”. Artinya peserta tidak boleh bereaksi kepada “hantu” dengan memukul, menendang atau bahkan menyentuh saja. Setelah itu antrian bergerak maju, ada rasa sedikit damai karena merasa bahwa paling tidak ada orang didepan saya yang akan menjadi tameng. Apa lacur, ternyata tepat giliran saya untuk masuk lampu merah menyala, artinya sudah memenuhi quota jumlah peserta yang sedang masuk. Jadilah saya menjadi orang terdepan pada group “pemberani” berikutnya. Saya menjadi orang pertama pada group berikut untuk memasuki lorong-lorong didalam rumah berhantu ini.

Sambil menunggu, saya menenteramkan diri dengan beberapa kali meoli sebagai reaksi terhadap tayangan monitor yang mempertontonkan orang ketakutan di dalam rumah hantu. Meoli itu serta merta memberikan saya inspirasi untuk mebuat keder para hantu Kota London disini. Saya jadi sangat bersemangat, sementara anak bungsu saya berpegangan erat dibelakang saya, tertunduk takut namur juga tertawa melihat tingkah saya yang katanya bagai orang gila.

Saat masuk tiba, dengan gagah berani saya masuk dan siap menghadapi segala kemungkinan. Sekitar 10 detik suasana lorong yang agak gelap dengan temaran sinar merah terasa aman dan hening. Tiba-tiba muncul suara yang menakutkan dikuti dengan munculnya orang yang “bersimbah darah”. Saya segera melompat kesana kemari sambil berusaha meoli dengan keras ditelinganya. Dia segera berlalu dengan cepat. Berkali-kali “hantu London” muncul untuk menakuti-nakuti kami tetapi segera saya “terkam” dan memekakkan telinganya dengan peoli toraya. Tidak ada yang tahan telinganya terhadap lengkingan teriakan khas Toraja itu, bahkan beberapa segera menghindar tanpa berani menakuti-nakuti kami lagi.

Sambil berjalan melalui lorong yang temaran saya tetap meoli-oli dan melompat kesana kemari (nandak-andak). Aneh bin ajaib, anak saya yang berpegang dengan erat bagaikan ikut terangkat ketika saya melompat, rasanya saya mendapatkan tenaga ekstra bisa melompat sambil menahan beban satu orang dewasa.

Akhirnya kami sampai dipenghujung lorong, suara saya hampir habis dan tenaga saya terkuras. Namun ada kepuasan, ternyata hantu kota London sekalipun kehilangan nyali dan lari terbirit mendengarkan peoli Toraya.

Salama’

Ir.Agustinus Parinding, MBA

diposting pertama Kali di Milis Toraya
joint: toraya@yahoogroups.com

Displaying 2 Comments
Have Your Say
  1. sEmy says:

    Hahahahaaha…..
    saya bisa bayangkan, gimana jadinya kalao ‘Meoli’ Sambil bawa ‘Tau-Tau’…

  2. sEmy says:

    Hahahahaaha…..
    saya bisa bayangkan, gimana jadinya kalao ‘Meoli’ Sambil bawa ‘Tau-Tau’…

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Switch to our mobile site